Jumat, 26 Juni 2015
Rabu, 24 Juni 2015
STRATEGI PEMBELAJARAN ARTIKULASI
ARTIKULASI
PENGUCAPAN LAFAL DENGAN BENAR
Nama Kelompok:
1. Tubagus Achmadi
2. Siti Nur Miftakhur Rohmah
3. Siti Zainab
|
Al – Qur’an Hadist
|
Mata
pelajaran: Al – Qur’an Hadist
Pembahasan:
Surat Al Ikhlas.
Metode
yang digunakan: diskusi, dan ceramah
Media
yang digunakan: Peraga
|
Pengertian Surat Al - Ikhlas
|
Kompetensi
Dasar:
|
Membaca Surat Al – Ikhlas dengan benar
|
|
Peserta didik
dapat mengerti isi kandungan dari surat Al Ikhlas
|
Tujuan:
|
Peserta didik
mampu membaca Surat Al – Ikhlas dengan benar.
|
Langkah-langkah:
1.
Menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin
dicapai.
2.
Guru menyajikan materi sebagaimana biasa.
3.
Untuk mengetahui daya serap siswa, bentuklah
kelompok berpasangan 2 orang,
4.
Suruhlah seorang dari pasangan itu
menceritakan materi yang baru diterima dari Guru dan pasangannya mendengar
sambil membuat catatan – catatan kecil, kemudian berganti peran, begitu juga
kelompok lainnya.
5.
Suruh siswa secara bergiliran/di acak
menyampaikan hasil wawancara dengan pasangannya. Sampai sebagian siswa sudah
menyampaikan hasil wawancara.
6.
Guru mengulangi / menjelaskan kembali materi
yang sekiranya belum dipahami siswa.
7.
Kesimpulan / penutup.
Arti Dari Surat Al –
Ikhlas
1.
Katakanlah ( Muhammad ),
“Dialah Allah yang Maha Esa”
2.
Allah tempat meminta segala
sesuatu.
3.
( Allah ) tidak beranak dan
tidakpulah diperanakkan.
4.
Dan tidak ada sesuatu yang
setara dengan dia.
Arti Dari Surat Al –
Ikhlas
1.
Katakanlah ( Muhammad ),
“Dialah Allah yang Maha Esa”
2.
Allah tempat meminta segala
sesuatu.
3.
( Allah ) tidak beranak dan
tidakpulah diperanakkan.
4.
Dan tidak ada sesuatu yang
setara dengan dia.
Arti Dari Surat Al –
Ikhlas
1.
Katakanlah ( Muhammad ),
“Dialah Allah yang Maha Esa”
2.
Allah tempat meminta segala
sesuatu.
3.
( Allah ) tidak beranak dan
tidakpulah diperanakkan.
4.
Dan tidak ada sesuatu yang
setara dengan dia.
Arti Dari Surat Al –
Ikhlas
1.
Katakanlah ( Muhammad ),
“Dialah Allah yang Maha Esa”
2.
Allah tempat meminta segala
sesuatu.
3.
( Allah ) tidak beranak dan
tidakpulah diperanakkan.
4.
Dan tidak ada sesuatu yang setara
dengan dia.
Arti Dari Surat Al –
Ikhlas
1.
Katakanlah ( Muhammad ),
“Dialah Allah yang Maha Esa”
2.
Allah tempat meminta segala
sesuatu.
3.
( Allah ) tidak beranak dan
tidakpulah diperanakkan.
4.
Dan tidak ada sesuatu yang
setara dengan dia.
makalah Al - Khindi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Filsafat merupakan bagian dari hasil kerja berpikir dalam mencari hakikat
segala sesuatu secara sistematis, radikal dan universal. Sedangkan filsafat
Islam itu sendiri adalah hasil pemikiran filosof tentang ketuhanan, kenabian,
manusia dan alam yang disinari ajaran Islam dalam suatu aturan pemikiran yang
logis dan sistematis serta dasar-dasar atau pokok-pokok pemikirannya
dikemukakan oleh para filosof Islam.
Ketika filsafat Islam
dibicarakan, maka yang terbayang dalam pemahaman kita adalah beberapa tokoh
yang disebut sebagai filosof muslim seperti Al-Kindi, Ibnu Sina, Al-Farabi,
Ibnu Rusyd, Al-Ghazali, dan seterusnya. Kehadiran para tokoh ini memang tidak
bisa dihindarkan, tidak saja karena dari merekalah kita dapat mengenal filsafat
islam, akan tetapi juga karena pada mereka benih-benih filsafat Islam
dikembangkan.
Adapun yang akan
dibahas di dalam makalah ini adalah tokoh filsafat muslim yang bernama,
Al-kindi. Alasannya adalah karena tokoh tersebut merupakan peletak dasar
dalam filsafat islam.
B.
Rumusan Masalah
1.
SiapakahAl-Kindi?
2.
BagaimanakahteorisertapemikiranAl-Kindi?
C.
Tujuan
1.
Mengetahui biografi Al-Kindi
2.
Mengetahui teori pengetahuan serta pemikiran Al-Kindi
3.
Sebagai syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Islam.
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
A.
Biografi Al-Kindi
Al-Kindi, nama
lengkapnya Abu Yusuf Ya’kub ibn Ishaq ibn Sabbah ibn imran ibn Ismail Al-Ash’
ats ibn Qais Al-Kindi, lahir di kufah, iraq sekarang, tahun 801 M, pada masa
khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M) dari Dinasti Bani Abbas (750-1258 M).[1]
Nama Al-Kindi sendiri di nisbatkan kepada marga atau suku leluhurnya, salah
satu suku besar zaman pra Islam. Menurut Faud Ahwani, Al-Kindi lahir dari
keluarga bangsawan, terpelajar, dan kaya.
Pendidikan
Al-Kindi dimulai di Kufah. Saat itu ia mempelajari Al-Qur’an, tata Bahasa Arab,
kesastraan, ilmu hitung, Fiqih dan Teologi. Disamping Basrah, Kufah saat itu
merupakan pusat keilmuan dan kebudayaan Islam yang cenderung pada studi
keilmuan rasional (aqliyah).[2]
Tampaknya kondisi dan situasi inilah yang kemudian menggiring Al-Kindi untuk
memilih dan mendalami sains dan filsafat pada masa-masa berikutnya.
Al-Kindi
kemudian pindah ke Baghdad. Di Ibukota pemerintahan Bani Abbas ini, Al-Kindi
mencurahkan perhatiannya untuk menterjemah dan mengkaji filsafat serta
pemikiran-pemikiran rasional lainnya yang marak saat itu.
Berkat
kelebihan dan reputasinya dalam filsafat dan keilmuan, Al-Kindi kemudian
bertemu dan berteman baik dengan Khalifah Al-makmun (813-833 M), seorang
Khalifah dari Bani Abbas yang sangat gandrung pemikiran rasional dan filsafat.
Lebih dari itu ia diangkat sebgai penasihat dan guru Istana pada masa Khalifah
Al-Mu’tashim (833-842 M) dan Al-Watsiq (842-847 M). Posisi dan jabatan tersebut
bahkan masih tetap dipegangnya pada awal kekuasaan Khalifah Al-Mutawakkil
(847-861 M), sebelum akhirnya ia dipecat karena hasutan orang-orang tertentu
yang tidak suka dan iri atas prestasi-prestasi akademik yang dicapainya.[3]
Al-Kindi
meninggal di Baghdad, tahun 873 M. Menurut Atiyeh, Al-Kindi meninggal dalam
kesendirian dan kesunyian, hanya ditemani oleh beberapa orang terdekatnya. Ini
adalah ciri khas kematian orang besar yang sudah tidak lagi disukai, tetapi
juga sekaligus kematian seorang filsuf yang besar yang menyukai kesunyian.[4]
Al-Kindi
meninggalkan banyak karya tulis. Setidaknya ada 270 buah karya tulis yang
teridentifikasi, yang dapat diklasifikasikan dalam 17 Kelompok : (1) Filsafat,
(2) Logika, (3) Ilmu Hitung, (4) Globular, (5) Musik, (6) Astronomi, (7)
Geometri, (8) Sperikal, (9) Medis, (10) Astrologi, (11) Dialektika, (12)
Psikologi, (13) Politik, (14) Meteorologi, (15) Besaran, (16) Ramalan, (17)
Logam dan Kimia.[5]
Cakapan karya-karya tersebut menunjukkan luasnya wawasan dan pengetahuan
Al-Kindi.
B.
Teori dan Pemikiran Al-Kindi
Al-Kindi adalah seorang filosof Islam yang pertama dari bangsa Arab yang
berusaha memadukan antara ajaran filsafat Yunani dengan ajaran Islam. Atas
perpaduan antara ajaran filsafat yunani dengan Ajaran Islam, maka ini terbukti
bahwa mempelajari filsafat tidaklah memusnahkan keyakinan agama yang dimiliki
umat Islam selama umat Islam tersebut sudah kokoh berpegang pada dasar-dasar
Islam. Selama eksisnya dalam mempelajari filsafat, Al-Kindi memberikan
definisi-definisi singkat dari filsafat itu sendiri. Menurutnya filsafat adalah
upaya manusia meneladani perbuatan-perbuatan Tuhan sejauh dapat dijangkau oleh
kemampuan akal manusia, pengetahuan dari segala pengetahuan dan kebijaksanaan
dari segala kebijaksanaan, hingga kesemuaanya dititik beratkan pada nilai tingkah
laku manusia.
Menurutnya lagi filosof
adalah “orang yang berupaya memperoleh kebenaran dan hidup menjunjung tinggi
nilai keadilan atau hidup adil. Filosof yang sejati adalah filosof yang mampu
memperoleh kebijaksanaan dan mengamalkan kebijaksanaan itu.”[6]
Sebagai seorang muslim,
Al-Kindi berusaha menggegas agar filsafat bisa dipelajari dan berpadu dalam
Islam, namun arah tujuan dari semua itu tidak untuk kebenaran yang hakiki.
Untuk itu Al-Kindi yang terkenal sebagi Filosof Islam pertama kali di dunia
membuat suatu usaha demi sebuah pencerahan. Salah satu usahanya adalah al-Kindi
memperkenalkan filsafat ke dalam dunia Islam dengan cara mengetok hati umat
supaya menerima kebenaran walaupun dari mana sumbernya. Menurutnya kita tidak
pada tempatnya malu mengakui kebenaran dari mana saja sumbernya. Bagi mereka
yang mengakui kebenaran tidak ada sesuatu yang lebih tinggi nilainya selain
kebenaran itu sendiri dan tidak pernah meremehkan dan merendahkan martabat
orang yang menerimanya.[7]
Kemudian ia Mengarahkan
filsafat muslim ke arah kesesuaian antara filsafat dan agama melalui perpaduan
antara akal dan agama. Kalau di gariskan maka, filsafat berlandaskan akal
sedangkan agama berdasarkan wahyu. Logika (mantiq) merupakan metode filsafat
sedang iman merupakan kepercayaan kepada hakikat yang disebutkan dalam
Al-Qur’an sebagaimana diwahyukan Allah kepada Nabi-Nya. Apa yang telah
dinyatakan dalam al-Qur’an merupakan satu ilmu yang mesti dipelajari melalui
akal dan keimanan, sebagai contoh firman Allah Swt Q.S. Al-Baqarah ayat 164 :
”Sesungguhnya tentang kejadian langit dan bumi, perbedaan malam dan
siang, kapal yang berlayar dilautan (membawa) barang-barang yang berfaedah bagi
manusia, hujan yang diturunkan Allah Swt dari langit, lalu dihidupkanNya dengan
dia bumi yang telah mati, berkeliaran diatasnya tiap-tiap yang melata, angin
yang bertiup dan awan yang terbentang antara langit dan bumi, sesungguhnya
segala yang tersebut itu menjadi ayat-ayat (bukti-bukti atas kekuasaan Allah
Swt) bagi kaum yang berfikir”.
Dalil kedua yang dimunculkannya adalah Q.S Al-Hasyr ayat 2 :
”… maka ambillah ’ibrah (pengajaran), hai orang-orang yang mempunyai
pemandangan”.
Ia juga menselaraskan
antara filsafat dan agama yang didasarkan pada tiga alasan: pertama, ilmu agama
merupakan bagian dari filsafat. Kedua, wahyu yang diturunkan kepada Nabi dan
kebenaran filsafat saling bersesuaian. Ketiga, menuntut ilmu, secara logika
diperintahkan dalam agama.
Filsafat merupakan
pengetahuan tentang hakikat segala suatu, dan ini mengandung teologi (al-rububiyah),
ilmu tauhid, etika dan seluruh ilmu pengetahuan yang bermanfaat. Kebanyakan
definisi filsafat al-Kindi dikumpulkan dari karya-karya Aristoteles dan
kesukaannya kepada Aristoteles tidak bisa di abaikan. Bahkan, ketika ia
meringkas dari sumber-sumber lain yang secara keliru, ia menisbahkan pula
kepada Aristoteles. Subjek dan susunanya sesuai benar dengan sumber Neopolitik.
Pada definisi pertama, Tuhan disebut ”Sebab pertama” mirip dengan ”Agen
Pertamanya” Plotinus, suatu ungkapan yang juga digunakan al-Kindi atau dengan
istilahnya ”Yang Esa adalah sebab dari segala sebab”. Definisi-definisi
berikutnya dalam Risalah al-Kindi dikemukakan susunanya yang membedakan
antara alam atas dan alam bawah. Yang pertama ditandai dengan definisi-definisi
akal, alam, dan jiwa, diikuti dengan definisi-definisi yang menandai alam
bawah, dimulai dengan definisi badan (jism), penciptaan (ibda’), materi
(hayula), bentuk (shurah).[8] Dari
dasar pemikiran al-kindi akhirnya timbullah pemikiran Filsafatnya antara lain:
(a) Filsafat Ketuhanan
Filsafat Ketuhanan al-Kindi merupakan awal lahirnya perbincangan Ketuhanan,
namun penafsiran al-Kindi mengenai Tuhan sangat berbeda dengan pendapat
Aristoteles, Plato dan Plotinius. Mengenai hakikat ke-Tuhanan ia mengatakan
bahwa Tuhan adalah wujud yang Esa, tidak ada sesuatu benda apapun yang
menyerupai akan Tuhan, dan Tuhan tidaklah melahirkan ataupun dilahirkan, akan
tetapi Tuhan akan selalu hidup dan tidak akan pernah mati. Dalam al-Qur’an
Surat al-Ikhlas ayat 1-4 sebagai bukti keberadaan Tuhan.
”Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang
bergantung kepada-Nya segala sesuatu, Dia tiada beranak dan tidak pula
diperanakkan, Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia".
Dalam Islam Sang Khalik
atau pencipta dan penguasa segalanya di buat sebuah penamaan yakni ”Allah Swt”
sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas maka, itulah bukti yang paling
kongkrit bahwa Allah SWT itu ada dan
hidup kekal selamanya, sedangkan manusia adalah Hamba Allah yang diberikan
kehidupan hingga akhirnya mati. Bagaimana kita bisa percaya akan adanya Allah
Swt, maka dari itu sebagai manusia biasa diberikan akal, hati dan nurani untuk
dapat menyakini adanya Allah swt melalui bukti-bukti kekuasaan Allah Swt.
Agar manusia khususnya
umat Islam tidak berselisih paham akan keberadaan Allah Swt, tentang keberadaan
alam, ataupun keberadaan manusia itu sendiri, maka sebagai seorang filosof,
al-Kindi membagi pengetahuan menjadi dua bagian, yakni: Pertama, pengetahuan
Ilahi. Pengetahun ini diambil langsung dari yang tercantum dalam al-Qur-an
yaitu pengetahuan yang langsung diperoleh Nabi dari Tuhan. Sedangkan dasar dari
pengetahuan ini adalah keyakinan. Kedua, pengetahuan manusiawi atau falsafat.
Dasarnya ialah pemikiran.
Argumen-argumen yang
dibawa Qur’an lebih meyakinkan daripada argumen-argumen yang ditimbulkan
falsafat. Tetapi falsafat dan Qur’an tidak bertentangan dengan kebenaran yang
di bawa falsafat. Mempelajari filsafat dan berfalsafat tidak dilarang, karena
teologi adalah bahagian dari filsafat, dan umat Islam diwajibkan belajar
teologi.[9]
Kebenaran yang
sesungguhnya hanya pada Allah Swt. Apa yang terlintas di akal hingga terjadi
dengan sendirinya di luar akal merupakan sebuah hikmah dalam kehidupan yang
mesti kita sadari bahwa terkadang suatu pelajaran sudah kita anggap benar namun
akhirnya menjadi sebaliknya. Akhirnya semua akan kembali kepada al-Qur’an
sebagai pedoman dan petunjuk bagi kehidupan manusia. Apa yang dinyatakan dalam
al-Qur’an semuanya mengandung hikmah dan pelajaran bagi seorang insan yang mau
berpikir.
Tuhan dalam falsafat
al-Kindi tidak mempunyai hakekat dalam arti ’aniah atau mahiah. Tidak ’aniah
karena Tuhan tidak termasuk dalam benda-benda yang ada dalam alam, bahkan Ia
adalah pencipta alam. Ia tidak tersusun dari materi dan bentuk, kemudian tuhan
tidak mempunyai hakekat dalam bentuk mahiah, karena Tuhan tidak merupakan genus
atau species. Tuhan hanya satu, dan tidak ada yang serupa dengan Tuhan. Tuhan
adalah tunggal, selain dari Tuhan semuanya mempunyai arti banyak.[10]
Agar dapat memahami
penafsiran al-Kindi tentang Tuhan, kita mesti merujuk pada kaum Tradisionalis
dan Mu’tazilah. Kaum tradisionalis (Ibn Hanbal adalah salah seorang tokohnya)
menafsirkan sifat-sifat Allah dengan nama-nama Allah, mereka menerima makna
harfiyah al-Qur’an tanpa memberikan penafsiran lebih jauh. Kaum Mu’tazilah yang
semasa dengan al-Kindi, secara akal menafsirkan sifat-sifat Allah demi
memantapkan sifat Maha Esa-Nya.
Walaupun al-Kindi
sepaham dengan Muktazilah dalam menafikan sifat dari Zat Allah. Akan tetapi,
ketika Muktazilah menyatakan bahwa Tuhan itu mengetahui dengan Ilmu-Nya dan
Ilmu-Nya adalah Zat-Nya (’Alim bi’ilm wa ’ilmuh zatuh) berkuasa dengan
kekuasaan-Nya dan kekuasaa-Nya adalah Zat-Nya (qadir bi qudratih wa qudratuh
zaituh) al-Kindi tidak sepaham dengan pandangan ini. Sesuai dengan paham yang
ada dalam Islam, Tuhan bagi al-Kindi adalah Pencipta dan bukan penggerak
Pertama sebagai pendapat Aristoteles.
Al-Kindi mengajukan
beberapa argumen untuk membuktikan adanya Tuhan, baik filosofis maupun
Teologis. Pertama, berdasarkan prinsip hukum sebab akibat. Sebagaimana telah
dijelaskan, semesta ini adalah terbatas dan tercipta dari ketiadaan. Kedua,
berdasarkan prinsip bahwa segala sesuatu tidak dapat menjadi sebab atas dirinya
sendiri, karena agar dapat menjadi sebab bagi dirinya, sesuatu itu harus ada
sebelum dirinya. Ketiga, berdasarkan analogi antara alam semesta dan manusia.
Keempat, didasarkan atas argumen teologis yaitu dalil al-inayah yang
menyatakan bahwa semua gejala alam yang tertib, teratur, dan menakjubkan ini
tidak mungkin terjadi secara kebetulan, tapi pasti ada tujuan dan maksud
tertentu.
(b) Filsafat Alam
Mengenai alam, al-Kindi berbeda pendapat juga dengan para filosof seperti
Aristoteles Plato, dan lainnya yang sebelum dia dengan mengatakan ”alam ini
kekal”, sedangkan al-Kindi mengatakan ”alam ini tak kekal”. Dalam hal ini ia
memberikan pemecahan yang radikal, dengan membahas gagasan tentang
ketakterhinggaan secara matematik. Dengan ketentuan ini, setiap benda yang
terdiri atas materi dan bentuk yang tak terbatas ruang dan bergerak di dalam
waktu, adalah terbatas, meskipun benda tersebut adalah wujud dunia. Karena
terbatas, ia tak kekal. Hanya Allah-lah yang kekal.[11]
Al-Kindi juga mengatakan alam bukan kekal di zaman lampau (qadim) tetapi
mempunyai permulaan. Karena itu ia lebih dekat dalam hal ini pada falsafat
Plotinus yang mengatakan bahwa Yang Maha Satu adalah sumber dari alam ini dan
sumber dari segala yang ada. Alam ini adalah emanasi dari Yang Maha Satu.
Tetapi paham emanasi ini kelihatannya tidak jelas dalam falsafat al-Kindi.
Al-Farabiyah yang dengan jelas menulis tentang hal itu.[12]
Menurut al-kindi alam ini termasuk makhluk yang sifatnya baharu, sebagai
bukti dari baharunya alam ia mengemukakan beberapa argumen, antara lain:
pertama, semua benda yang homogen, yang tiada padanya lebih besar ketimbang
yang lain, adalah sama besar. Kedua, jarak antara ujung-ujung dari benda-benda
yang sama besar, juga sama besarnya dalam aktualitas dan potensialitas. Ketiga,
benda-benda yang mempunyai batas tidak bisa tidak mempunyai batas. Keempat,
jika salah satu dari dua benda yang sama besarnya dan homogen ditambah dengan
homogen lainnya, maka keduanya menjadi tidak sama besar. Kelima, jika sebuah
benda dikurangi, maka besar sisanya lebih kecil daripada benda semula. Keenam,
jika satu bagian diambil dari sebuah benda, lalu dipulihkan kembali kepadanya,
maka hasilnya adalah benda yang sama seperti semula. Ketujuh, tiada dari dua benda
homogen yang besarnya tidak mempunyai batas. Kedelapan, jika benda-benda yang
homogen yang semuanya mempunyai batas ditambahkan ber sama, maka jumlahnya juga
akan terbatas.[13]
Kesimpulan dari ungkapan al-Kindi atas ungkapannya di atas adalah alam
semesta ini pastilah terbatas, oleh sebab itu ia menolak pandangan Aristoteles
yang mengatakan bahwa alam semesta tidak terbatas atau qadim. Mengenai
keteraturan alam dan perdaran alam ini sebagai bukti adanya Tuhan, sedangkan
alam adalah buatan Tuhan.
(c) Filsafat Jiwa dan Akal
Mengenai jiwa dan akal, al-Kindi juga membantah pendapat Aristoteles. Para
filosof muslim menamakan jiwa (al-nafs) seperti yang diistilahkan dalam
al-Qur’an yaitu, al-ruh. Kemudian kata ruh ini di indonesiakan menjadi tiga
bentuk, pertama nafsu yaitu dorongan untuk melakukan perbuatan yang diingini,
jika keinginan ini berbentuk negatif maka nafsu ini mendekati dengan hawa, jadi
kalau digabungkan menjadi hawa nafsu (keinginan yang jelek). Kedua nafas yaitu
suatu alat pencernaan udara sebagai tanda kehidupan seseorang. Ketiga roh atau
jiwa yaitu suatu zat yang tidak bisa dirangkaikan bentuknya. Karena al-Qur’an
telah menginformasikan bahwa manusia tidak akan mengetahui akan hakikat roh,
roh adalah urusan Allah bukan urusan manusia. Allah menyatakan akan hakikat roh
dalam Q.S. Al-Isra’ 17 : 85.
”Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu
termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan
sedikit".
Sedangkan akal
merupakan sebuah potensi berupa alat untuk berpikir yang hanya dimiliki oleh
manusia. Setiap manusia yang terlahir ia akan membawa potensi masing-masing
dari akal yang dimilikinya, semakin banyak ia berpikir semakin banyak pula ia
akan mendapatkan pengetahuan, maka akan nampak sebuah perbedaan seorang yang
banyak berpikir dengan akalnya untu menemukan sebuah ide-ide baru dari pada
seorang yang hanya menerima hasil dari ide orang lain. Muncullah sebuah
perbedaan antara seorang yang berpengetahuan dengan yang tidak berpengetahuan
seperti dikatakan al-Qur’an pada Surat az-Zumar ayat 9:
“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang
beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada
(azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya Katakanlah: "Adakah sama
orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?"
Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”.
Selanjutnya, Al-Kindi
menolak pendapat Aristoteles yang mengatakan bahwa manusia sebagaimana
benda-benda, tersusun dari dua unsur, materi dan bentuk. Materi adalah badan
dan bentuk adalah jiwa manusia. Hubungan dengan badan sama dengan hubungan
bentuk dengan materi. Bentuk atau jiwa tidak bisa mempunyai wujud tanpa materi
atau badan dan begitu pula sebaliknya materi atau badan tidak pula bisa
berwujud tanpa bentuk atau jiwa. Pendapat ini mengandung arti bahwa jiwa adalah
form bagi badan. Form tidak bisa terwujud tanpa materi, keduanya membentuk satu
kesatuan yang bersifat esensial, dan kemusnahan badan membawa kemusnahan jiwa.
Dalam hal ini al-Kindi sependapat dengan Plato yang mengatakan bahwa kesatuan
jiwa dan badan adalah kesatuan Acciden, binasanya badan tidak membawa binasa
pada jiwa. Namun, ia tidak menerima pendapat Plato yang mengatakan bahwa jiwa
berasal dari alam ide.
Menurut al-Kindi roh
tidak tersusun (basiithah, simple, sederhana) tetapi mempunyai arti
penting, sempurna dan mulia. Substansinya (jawahara) berasal dari substansi
Tuhan. Hubungannya dengan Tuhan sama dengan hubungan cahaya dengan matahari.
Hanya roh yang sudah suci di dunia ini yang dapat pergi ke alam kebenaran itu.
Roh yang masih kotor dan beluim bersih, pergi dahulu ke bulan. Setelah berhasil
membersihkan diri di sana, baru pindah ke Merkuri, dan demikianlah naik
setingkat demi setingkat hingga akhirnya, setelah benar-benar bersih, sampai ke
alam akal, dalam lingkungan cahaya Tuhan dan melihat Tuhan.[14]
Mengenai akal, al-Kindi
juga berbeda pendapat dengan Aristoteles. Aristoteles membedakan akal menjadi
dua macam, yaitu akal mungkin dan akal agen. Akal mungkin menerima pikiran,
sedangkan akal agen menghasilkan objek-objek pemikiran. Akal agen ini
dilukiskan oleh Aristoteles sebagai tersendiri, tak bercampur, selalu aktual,
kekal, dan takkan rusak. Berbeda halnya dengan al-Kindi yang membagi akal dalam
empat macam; pertama: akal yang selalu bertindak, kedua: akal yang secara
potensial berada di dalam roh, ketiga: akal yang telah berubah, di dalam roh,
dari daya menjadi aktual, keempat; akal yang kita sebut akal kedua. Yang
dimaksudkan dengan akal ”kedua” yaitu tingkat kedua aktualitas; antara yang
hanya memiliki pengetahuan dan yang mempraktekkannya.[15]
Dinyatakan lagi oleh
al-Kindi bahwa akal yang bersifat potensial tak bisa mempunyai sifat aktuil
jika tidak ada kekurangan yasng menggerakkannya dari luar. Dan oleh karena itu
bagi al-Kindi ada lagi satu macam akal yang mempunyai wujud di luar roh
manusia, dan bermakna akal yang selamanya dalam aktualitas (al’aqlu ladzi bil
fa’il abadan). Akal ini, karena selamanya dalam aktualitas, ialah yang membuat
akal yang bersifat potensial dalam roh manusia menjadi aktuil. Bagi al-Kindi
manusia disebut menjadi ’akil (’akal) jika ia telah mengetahui universal, yaitu
jika ia telah memperoleh akal yang di luar itu (idza uktisab hadzal ’aklul
kharaji). Akal yang selalu bertindak (akal pertama) bagi al-Kindi, mengandung
arti banyak, karena dia adalah universals (al-kuliyat mutakatsarah). Dalam
limpahan dari Yang Maha Satu, akal inilah yang pertama-tama merupakan yang
banyak (awwalu muktatsar).[16]
[1] Fuad el-Ahwani, “al-kindi” dalam MM. Syarif, Para Fiosof Muslim, terj.
A. Muslim (Bandung : Mizan, 1996), hlm. 11
[2] Ibid, hlm. 12
[3] Fuad Ahwani, Para Filosof Muslim, hlm. 12-13
[4] Atiyeh, Al-Kindi, hlm. 7
[5] Ibid, hlm. 140-187
[6] A. Mustofa, Filsafat Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2004),
hlm.104
[7] Abdus Salam, Sains dan Dunia Islam, Terj. Ahmad Baiquni,
(Bandung: Salman ITP, 1983), hlm. 11
[8] Abu Ridah, Rasa’il al-Kindi Al-Falsafiyah, (Kairo: t.t, 1950),
hlm. 211
[9]Harun Nasution, Filsafat dan Mitisisme dalam Islam, Cet. Ke IX,
(Jakarta: Bulan Bintang, 1973), hlm. 15
[10] Ibid. hlm.16
[11] M. M. Syarif, dkk, History of Muslim Philosophy…, hlm. 24
[12] Harun Nasution, Filsafat dan Mitisisme dalam Islam ..., hlm.15
[13] George N. Atiyeh, Al Kindi Tokoh Filsafat Muslim, Terj. Kasidjo
Djojo suwarno, (Bandung: Salman, 1983), hlm. 50-51
[14] Harun Nasution, Filsafat dan Mitisisme dalam Islam ..., hlm.
17-18
[15] M.M. Syarif, dkk, History of Muslim Philosophy …, hlm. 26-27
[16] Harun Nasution, Filsafat dan Mitisisme dalam Islam ..., hlm. 19-20
Langganan:
Postingan (Atom)

