Sabtu, 28 Juni 2014

makalah kami





BABI
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Allah menggunakan banyak perumpamaan (amtsal) dalam Al-Qur’an. Perumpamaan-perumpamaan itu dimaksudkan agar manusia memperhatikan, memahami, mengambil pelajaran, berpikir dan selalu mengingat. Sayangnya banyaknya  perumpamaan  itu  tidak  selalu  membuat  manusia  mengerti, melainkan tetap ada yang mengingkarinya/ tidak percaya. Karena memang tidaklah mudah untuk memahami suatu perumpamaan. Kita perlu ilmu untuk memahaminya. Sudah digambarkan dengan perumpamaan saja masih susah apalagi tidak. Oleh karena itu, dalam makalah ini kami mencoba menjelaskan sedikit tentang ilmu amtsal Al-Qur’an.
1.2 Tujuan penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah tentang amtsal Al-Qur’an ini adalah menjelaskan  hal-hal  yang  berkaitan  dengan  ilmu  amtsal  sehingga  para pembaca yang awalnya belum pernah mengetahuinya menjadi tahu. Setelah memahami ilmu amtsal Al-Qur’an diharapkan para pembaca mampu memahami, mangambil pelajaran, berpikir, dan selalu mengingat ayat-ayat Al-Qur’an.
1.3  Rumusan masalah
Dalam makalah ini kami dapat menemukan rumusan masalah yang akan di bahas sebagai berikut :
1.      Definisi Amtsal dalam Al-Qur’an.
2.      Jenis-jenis Amtsal  dalam Al-Qur’an.
3.      Faedah-faedah Amtsal  dalam Al-Qur’an

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Defenisi Amtsal
            Amtsal adalah bentuk jamak dari matsal dan matsil, yang serupa dengan syabah, syibh dan syabih, baik lafadzh dan maknanya.
            Yang dimaksud adalah penyerupaan suatu keadaan dengan keadaan yag lain, demi tujuan yang sama[1], yaitu pengisah menyerupakan sesuatu dengan aslinya. Contohnya, “rubba ramiyah min ghairi ramin”, maksudnya berapa banyak musibah diakibatkan oleh kesalahan pemanah. Orang yang pertama mengatakan seperti ini adalah Hakam bin Yaghuts Al-Naqri, membuat perumpamaan orang yang salah dengan musibah walaupun kadang-kadang benar.
            Amtsal  juga digunakan untuk mengungkapkan suatu keadaan dan kisah yang menakjubkan. Dengan makna inilah lafadzh amtsal ditafsirkan dalam banyak ayat, seperti :
ã@sW¨B Ïp¨Ypgø:$# ÓÉL©9$# yÏããr tbqà)­GßJø9$# ( !$pkŽÏù ֍»pk÷Xr& `ÏiB >ä!$¨B ÎŽöxî 9`Å#uä ֍»pk÷Xr&ur `ÏiB &ûtù©9 óO©9 ÷ލtótGtƒ ¼çmßJ÷èsÛ Ö»pk÷Xr&ur ô`ÏiB 9÷Hs~ ;o©%©! tûüÎ/̍»¤±=Ïj9 ֍»pk÷Xr&ur ô`ÏiB 9@|¡tã y"|ÁB ( öNçlm;ur $pkŽÏù `ÏB Èe@ä. ÏNºtyJ¨V9$# ×otÏÿøótBur `ÏiB öNÍkÍh5§ ( ô
15.  (apakah) perumpamaan (penghuni) jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada beubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak beubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka,.....(Muhammad:15)
Yaitu kisah dan sifatnya  yang menjadikan surga itu menakjubkan.
Az-Zamakhsyari dalam Al-Kasysyaf, mengisyaratkan ada tiga makna terkait dengan masalah ini, katanya, ....Amtsal digunakan untuk menggambarkan sesuatu keadaan, sifat atau  kisah yang menakjubkan. Ada makna yang ke-empat yang dipakai oleh ulama bahasa arab yaitu kata majaz murakkab yang memiliki hubungan yang serupa ketika digunakan. Asalnya adalah sebagai isti`arah tamtsiliyah. Seperti kata-kata kita terhadap orang yang maju mundur dalam menentukan sikap atau ragu-ragu, ”mengapa aku lihat engkau meletakkan satu kaki, dan meletakkan kaki yang lain dibelakang.
            Ada juga yang berpendapat, Amtsal adalah  makna yang paling jelas dalam menggambarkan suatu realita yang dihasilkan oleh adanya daya tarik dan keindahan. Amtsal seperti ini tidak disyaratkan harus adanya sumber atau metafor.
2.2 Jenis Amtsal dalam Al-qur`an.
          Amtsal didalam Al-qur`an ada tiga macam; amtsal musharrahah, amtsal kaminah dan amtsal mursalah.
1.     Amtsal musharrahah, maksudnya sesuatu yang dijelaskan dengan lafazh matsal atau sesuatu yang menunjukkan tasbyih (penyerupaan). Amtsal ini seperti banyak ditemukan dalam Al-qur`an, dan berikut ini beberapa di antaranya :
a)      Tentang orang munafik :
öNßgè=sVtB È@sVyJx. Ï%©!$# ys%öqtGó$# #Y$tR !$£Jn=sù ôNuä!$|Êr& $tB ¼ã&s!öqym |=ydsŒ ª!$# öNÏdÍqãZÎ/ öNßgx.ts?ur Îû ;M»yJè=àß žw tbrçŽÅÇö6ムÇÊÐÈ BL༠íNõ3ç/ ÒôJãã öNßgsù Ÿw tbqãèÅ_ötƒ ÇÊÑÈ ÷rr& 5=ÍhŠ|Áx. z`ÏiB Ïä!$yJ¡¡9$# ÏmŠÏù ×M»uKè=àß Óôãuur ×-öt/ur tbqè=yèøgs ÷LàiyèÎ6»|¹r& þÎû NÍkÍX#sŒ#uä z`ÏiB È,Ïãºuq¢Á9$# uxtn ÏNöqyJø9$# 4 ª!$#ur 8ÝŠÏtèC tûï̍Ïÿ»s3ø9$$Î/ ÇÊÒÈ ßŠ%s3tƒ ä-÷Žy9ø9$# ß#sÜøƒs öNèdt»|Áö/r& ( !$yJ¯=ä. uä!$|Êr& Nßgs9 (#öqt±¨B ÏmŠÏù !#sŒÎ)ur zNn=øßr& öNÍköŽn=tæ (#qãB$s% 4 öqs9ur uä!$x© ª!$# |=yds%s! öNÎgÏèôJ|¡Î/ öNÏd̍»|Áö/r&ur 4 žcÎ) ©!$# 4n?tã Èe@ä. &äóÓx« ֍ƒÏs% ÇËÉÈ
17.  Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, Maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat Melihat.
18.  Mereka tuli, bisu dan buta, Maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar),
19.  Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, Karena (mendengar suara) petir,sebab takut akan mati. dan Allah meliputi orang-orang yang kafir.
20.  Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.
Di dalam ayat-ayat ini Allah membuat dua perumpamaan (matsal) bagi orang munafik; matsal yang berkenaan dengan api (nar) dalam firman-nya, adalah seperti orang yang menyalakan apikarena di dalam api terdapat unsur cahaya. Matsal yang lain adalah berkenaan dengan air(ma`i), atau seperti orang yang ditimpa hujan lebat dari langit karena di dalam air terdapat materi kehidupan. Dan wahyu yang turun dari langit pun bermaksud untuk menerangi hati dan menghidupkannya. Allah juga menyebutkan kondisi orang munafik dalam dua keadaan. Di satu sisi mereka bagaikan orang yang menyalakan api untuk penerangan dan kemanfaatan. Dalam hal ini mereka memperoleh kemanfaatan materi dengan sebab masuk islam. Namun keislaman (keberagamaan) mereka tidak memberikan pengaruh terhadap hati mereka karena Allah menghilangkan cahaya (nur) yang ada dalam api itu, Allah menghilangkan cahaya (yang menyinari) mereka. Kemudian membiarkan unsur api membakaryang ada padanya. Inilah perumpamaan mereka yang berkenaan dengan api.
2.     Amtsal kaminah, yaitu yang di dalamnya tidak disebutkan dengan jelas lafazh tamtsil, tetapi ia menunjukkan makna-makna yang indah,menarik, dalam redaksinya singkat padat, dan mempunyai pengaruh tersendiri bila dipindahkan kepada yang serupa dengannya. Contohya:
A.    Ayat-ayat yang senada dengan suatu ungkapan sebaik-baik perkara adalah yang tidak berlebihan, adil, dan seimbang. Yaitu:
a.       Firman Allah tentang sapi betina: sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan di antara itu...(Al-Baqarah:68)
b.      Firman-Nya tentang nafkah: dan mereka yang apabila membelanjakan (hartanya), mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) seimbang.(Al-Furqan:67)
c.       Firman-nya mengenai shalat: dan janganlah kamu mengeraskan suaramudalam salammu dan jangan pula merendahkannya, dan carilah jalan tengah diantara kedua itu.(Al-Isra`:110).
d.      Firman-nya mengenai infaq: dan janganlah kau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan pula terlalu mengulurkannya.(Al-Isra`:29)
B.     Ayat yang senada dengan ungkapan orang yang mendengar itu tidak sama dengan yang menyaksikannya sendiri. Misalnya firman Allah tentang Ibrahim: Allah berfirman, Apakah kamu belum percaya.? Ibrahim menjawab, saya telah percaya,akan tetapi agar bertambah tetap hati saya.(Al-Baqarah:260).
C.     Ayat yang senada dengan ungkapan seperti yang telah kamu lakukan, maka seperti itu kamu akan di balas.misalnya barang siapa mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu.(An-Nisa`:123).
3.     Amtsal mursalah,  yaitu kalimat-kalimat bebas yang tidak menggunakan lafazh tasybih secara jelas. Tetapi kalimat-kalimat itu berlaku sebagai matsal. Seperti:
a.      sekarang ini jelaslah kebenaran itu(Yusuf:51)
b.      Tidak ada yang bisa menyatakan terjadinya hari itu       selain dari Allah.(An-Najm:58)
c.       Bukankah subuh itu telah dekat(Hud:81)
d.      Dan rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri(Fathir:43)
Para ulama berbeda pendapat tentang ayat-ayat yang mereka namakan amtsal mursalah ini, apa dan bagaimana hukum mempergunakannya sebagai matsal?
            Sebagian ahli ilmu memandang bahwa hal seperti keluar dari adab Al-qur`an. Ar-Razi mengatakan ketika menafsirkan ayat,
                                                                             ö/ä3s9 ö/ä3ãYƒÏŠ uÍ<ur ÈûïÏŠ   
6.  Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku."
Sudah menjadi tradisi orang menjadikan ayat ini sebagai matsal ketika mereka saling meninggalkan satu sama lain (karena berselisih), padahal ini tidak di benarkan. Sebab Allah menurunkan Al-qur`an bukan untuk dijadikan matsal, tetapi untuk direnungkan dan kemudian diamalkan isi kandungannya.

2.3 Faedah-faedah Amtsal
 1.        Menonjolkan sesuatu ma’qul dalam bentuk kongkrit yang bisa dirasakan manusia sehingga akal bisa menerimanya dengan mudah. Contohnya:
Allah SWT. memberikan contoh tentang orang yang menafkahkan hartanya dengan jalan riya’ dimana orang tersebut tidak akan mendapat pahala sedikitpun dari jalan tersebut.
“Maka perumpamaan itu seperti batu licin yang diatasnya terdapat tanah, kemudian batu  itu ditimpa hujan lebat lalu menjadilah ia bersih, mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan.” (al-Baqoroh: 264).
2.         Menyingkapkan hakikat-hakikat dan mengemukakan sesuatu yang tidak tampak seakan-akan sesuatu itu tampak.
Contohnya
“Mereka yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila.” (al-Baqoroh: 275)
3.      Mengumpulkan makna yang menarik lagi indah dalam ungkapan yang padat, seperti amtsal kaminah dan amsal mursalah dalam ayat-ayat diatas.
4.      Mendorong orang yang diberi matsal untuk berbuat sesuai dengan isi matsal, jika ia merupakan sesuatu yang disenangin jiwa. Contohnya:
Allah SWT. membuat ma
tsal tentang orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah.
“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji, Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Ia kehendaki. Dan Allah Maha Luas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui.”
(al-Baqoroh:261)
5.      Menjauhkan, jika isi matsal berupa sesuatu yang dibenci jiwa. Contohnya:
“dan janganlah sebagian kamu, menggunjing sebagian yang lain, sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentu kamu merasa jijik kepadanya.” (al-Hujurat:12)
6.      Untuk memuji orang yang diberi matsal. Seperti firman-Nya tentang para sahabat:
“demikianlah perumpamaan mereka dalam Taurat dan perumpamaan mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah ia dan tegak lurus di atas pokoknya. Tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya, karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang Mukmin).”
(al-Fath:29)
7.      Untuk menggambarkan sesuatu yang mempunyai sifat yang dipandang buruk oleh orang banyak. Contohnya:
“dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (al-Isra’: 32)
8.      Amtsal lebih berpengaruh pada jiwa, lebih efektif dalam memberikan nasehat lebih kuat dalam memberikan peringatan dan lebih dapat memuaskan hati. Allah banyak menyebut amtsal di dalam al-Quran untuk peringatan dan pelajaran. Ia berfirman:
“dan sungguh kami telah membuat bagi manusia di dalam al-Quran ini setiap macam perumpamaan (matsal) supaya mereka mendapat pelajaran.”(az-Zumar:27)

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
1.      Amtsal adalah penyerupaan suatu keadaan dengan keadaan yag lain, demi tujuan yang sama, yaitu pengisah menyerupakan sesuatu dengan aslinya.
2.      Amtsal di bagi menjadi tiga jenis, yaitu
a.       Amtsal musharrahah, maksudnya sesuatu yang dijelaskan dengan lafazh matsal atau sesuatu yang menunjukkan tasbyih (penyerupaan).
b.      Amtsal kaminah, yaitu yang di dalamnya tidak disebutkan dengan jelas lafazh tamtsil, tetapi ia menunjukkan makna-makna yang indah,menarik, dalam redaksinya singkat padat, dan mempunyai pengaruh tersendiri bila dipindahkan kepada yang serupa dengannya.
c.       Amtsal mursalah,  yaitu kalimat-kalimat bebas yang tidak menggunakan lafazh tasybih secara jelas. Tetapi kalimat-kalimat itu berlaku sebagai matsal.










DAFTAR PUSTAKA

Al-Qaththan, Syaikh manna.2003.Pengantar studi Al-Qur`an.Jakarta Timur:Pustaka Al-Kautsar.


[1] Syaikh manna` Al-Qaththan, pengantar studi Al-Qur`an (Jakarta Timur:Pustaka Al-Kautsar,2006)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar