BABI
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Allah menggunakan banyak perumpamaan (amtsal) dalam
Al-Qur’an. Perumpamaan-perumpamaan itu dimaksudkan agar manusia memperhatikan,
memahami, mengambil pelajaran, berpikir dan selalu mengingat. Sayangnya
banyaknya perumpamaan itu tidak selalu
membuat manusia mengerti, melainkan tetap ada yang mengingkarinya/
tidak percaya. Karena memang tidaklah mudah untuk memahami suatu perumpamaan.
Kita perlu ilmu untuk memahaminya. Sudah digambarkan dengan perumpamaan saja
masih susah apalagi tidak. Oleh karena itu, dalam makalah ini kami mencoba
menjelaskan sedikit tentang ilmu amtsal Al-Qur’an.
1.2 Tujuan penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah tentang amtsal Al-Qur’an ini adalah menjelaskan
hal-hal yang berkaitan dengan ilmu amtsal
sehingga para pembaca yang awalnya belum pernah mengetahuinya menjadi
tahu. Setelah memahami ilmu amtsal Al-Qur’an diharapkan para pembaca mampu memahami, mangambil
pelajaran, berpikir, dan selalu mengingat ayat-ayat Al-Qur’an.
1.3 Rumusan masalah
Dalam makalah ini kami dapat menemukan rumusan masalah yang
akan di bahas sebagai berikut :
1. Definisi Amtsal dalam Al-Qur’an.
2. Jenis-jenis Amtsal dalam Al-Qur’an.
3. Faedah-faedah Amtsal dalam Al-Qur’an
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Defenisi Amtsal
Amtsal adalah bentuk
jamak dari matsal dan matsil, yang serupa dengan syabah, syibh dan syabih, baik lafadzh
dan maknanya.
Yang dimaksud adalah penyerupaan
suatu keadaan dengan keadaan yag lain, demi tujuan yang sama[1],
yaitu pengisah menyerupakan sesuatu dengan aslinya. Contohnya, “rubba ramiyah min ghairi ramin”,
maksudnya berapa banyak musibah diakibatkan oleh kesalahan pemanah. Orang yang
pertama mengatakan seperti ini adalah Hakam bin Yaghuts Al-Naqri, membuat
perumpamaan orang yang salah dengan musibah walaupun kadang-kadang benar.
Amtsal juga digunakan untuk mengungkapkan suatu
keadaan dan kisah yang menakjubkan. Dengan makna inilah lafadzh amtsal
ditafsirkan dalam banyak ayat, seperti :
ã@sW¨B Ïp¨Ypgø:$# ÓÉL©9$# yÏããr tbqà)GßJø9$# ( !$pkÏù Ö»pk÷Xr& `ÏiB >ä!$¨B Îöxî 9`Å#uä Ö»pk÷Xr&ur `ÏiB &ûtù©9 óO©9 ÷¨tótGt ¼çmßJ÷èsÛ Ö»pk÷Xr&ur ô`ÏiB 9÷Hs~ ;o©%©! tûüÎ/Ì»¤±=Ïj9 Ö»pk÷Xr&ur ô`ÏiB 9@|¡tã y"|ÁB ( öNçlm;ur $pkÏù `ÏB Èe@ä. ÏNºtyJ¨V9$# ×otÏÿøótBur `ÏiB öNÍkÍh5§ ( ô
15. (apakah) perumpamaan
(penghuni) jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di
dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada beubah rasa dan baunya,
sungai-sungai dari air susu yang tidak beubah rasanya, sungai-sungai dari
khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang
disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan
ampunan dari Rabb mereka,.....(Muhammad:15)
Yaitu kisah dan sifatnya
yang menjadikan surga itu menakjubkan.
Az-Zamakhsyari dalam Al-Kasysyaf, mengisyaratkan ada tiga
makna terkait dengan masalah ini, katanya, “....Amtsal digunakan untuk menggambarkan sesuatu keadaan, sifat atau kisah yang menakjubkan. Ada makna yang
ke-empat yang dipakai oleh ulama bahasa arab yaitu kata majaz murakkab yang memiliki hubungan yang serupa ketika digunakan.
Asalnya adalah sebagai isti`arah
tamtsiliyah. Seperti kata-kata kita terhadap orang yang maju mundur dalam
menentukan sikap atau ragu-ragu, ”mengapa aku lihat engkau meletakkan satu
kaki, dan meletakkan kaki yang lain dibelakang.
Ada juga
yang berpendapat, Amtsal adalah makna
yang paling jelas dalam menggambarkan suatu realita yang dihasilkan oleh adanya
daya tarik dan keindahan. Amtsal seperti ini tidak disyaratkan harus adanya
sumber atau metafor.
2.2 Jenis
Amtsal dalam Al-qur`an.
Amtsal didalam Al-qur`an ada tiga macam; amtsal
musharrahah, amtsal kaminah dan amtsal mursalah.
1.
Amtsal musharrahah, maksudnya sesuatu yang dijelaskan dengan lafazh matsal
atau sesuatu yang menunjukkan tasbyih
(penyerupaan). Amtsal ini seperti
banyak ditemukan dalam Al-qur`an, dan berikut ini beberapa di antaranya :
a)
Tentang
orang munafik :
öNßgè=sVtB È@sVyJx. Ï%©!$# ys%öqtGó$# #Y$tR !$£Jn=sù ôNuä!$|Êr& $tB ¼ã&s!öqym |=yds ª!$# öNÏdÍqãZÎ/ öNßgx.ts?ur Îû ;M»yJè=àß w tbrçÅÇö6ã ÇÊÐÈ BL༠íNõ3ç/ ÒôJãã öNßgsù w tbqãèÅ_öt ÇÊÑÈ ÷rr& 5=Íh|Áx. z`ÏiB Ïä!$yJ¡¡9$# ÏmÏù ×M»uKè=àß Óôãuur ×-öt/ur tbqè=yèøgs ÷LàiyèÎ6»|¹r& þÎû NÍkÍX#s#uä z`ÏiB È,Ïãºuq¢Á9$# uxtn ÏNöqyJø9$# 4 ª!$#ur 8ÝÏtèC tûïÌÏÿ»s3ø9$$Î/ ÇÊÒÈ ß%s3t ä-÷y9ø9$# ß#sÜøs öNèdt»|Áö/r& ( !$yJ¯=ä. uä!$|Êr& Nßgs9 (#öqt±¨B ÏmÏù !#sÎ)ur zNn=øßr& öNÍkön=tæ (#qãB$s% 4 öqs9ur uä!$x© ª!$# |=yds%s! öNÎgÏèôJ|¡Î/ öNÏdÌ»|Áö/r&ur 4 cÎ) ©!$# 4n?tã Èe@ä. &äóÓx« ÖÏs% ÇËÉÈ
17. Perumpamaan mereka
adalah seperti orang yang menyalakan api, Maka setelah api itu menerangi
sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan
mereka dalam kegelapan, tidak dapat Melihat.
18. Mereka tuli, bisu dan buta, Maka tidaklah
mereka akan kembali (ke jalan yang benar),
19. Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan
lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat
telinganya dengan anak jarinya, Karena (mendengar suara) petir,sebab takut akan
mati. dan Allah meliputi orang-orang yang kafir.
20. Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan
mereka. setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar
itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki,
niscaya dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah
berkuasa atas segala sesuatu.
Di dalam ayat-ayat ini Allah membuat dua perumpamaan (matsal) bagi orang munafik; matsal yang
berkenaan dengan api (nar) dalam firman-nya, “adalah seperti orang yang
menyalakan api”karena di dalam
api terdapat unsur cahaya. Matsal yang lain adalah berkenaan dengan air(ma`i), “atau seperti orang yang ditimpa hujan lebat dari langit” karena di dalam air terdapat materi kehidupan. Dan wahyu
yang turun dari langit pun bermaksud untuk menerangi hati dan menghidupkannya.
Allah juga menyebutkan kondisi orang munafik dalam dua keadaan. Di satu sisi
mereka bagaikan orang yang menyalakan api untuk penerangan dan kemanfaatan.
Dalam hal ini mereka memperoleh kemanfaatan materi dengan sebab masuk islam.
Namun keislaman (keberagamaan) mereka tidak memberikan pengaruh terhadap hati
mereka karena Allah menghilangkan cahaya (nur) yang ada dalam api itu, “Allah menghilangkan cahaya (yang menyinari) mereka.” Kemudian membiarkan unsur api “membakar”yang ada
padanya. Inilah perumpamaan mereka yang berkenaan dengan api.
2.
Amtsal kaminah, yaitu yang di dalamnya tidak disebutkan dengan jelas lafazh tamtsil,
tetapi ia menunjukkan makna-makna yang indah,menarik, dalam redaksinya singkat
padat, dan mempunyai pengaruh tersendiri bila dipindahkan kepada yang serupa
dengannya. Contohya:
A.
Ayat-ayat
yang senada dengan suatu ungkapan “sebaik-baik perkara adalah yang tidak berlebihan, adil, dan seimbang.
Yaitu:
a.
Firman
Allah tentang sapi betina: “sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan di
antara itu...(Al-Baqarah:68)
b.
Firman-Nya
tentang nafkah: dan mereka yang apabila
membelanjakan (hartanya), mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kikir,
dan adalah (pembelanjaan itu) seimbang.”(Al-Furqan:67)
c.
Firman-nya
mengenai shalat: “dan janganlah kamu mengeraskan suaramudalam salammu dan
jangan pula merendahkannya, dan carilah jalan tengah diantara kedua itu.”(Al-Isra`:110).
d.
Firman-nya
mengenai infaq: “dan
janganlah kau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan pula terlalu
mengulurkannya.”(Al-Isra`:29)
B.
Ayat
yang senada dengan ungkapan “orang yang
mendengar itu tidak sama dengan yang menyaksikannya sendiri.” Misalnya firman Allah tentang Ibrahim: Allah berfirman,
Apakah kamu belum percaya.? Ibrahim menjawab, “saya telah percaya,akan tetapi agar bertambah tetap hati saya.”(Al-Baqarah:260).
C.
Ayat
yang senada dengan ungkapan “seperti yang
telah kamu lakukan, maka seperti itu kamu akan di balas.”misalnya “barang siapa
mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu.”(An-Nisa`:123).
3.
Amtsal mursalah, yaitu
kalimat-kalimat bebas yang tidak menggunakan lafazh tasybih secara jelas.
Tetapi kalimat-kalimat itu berlaku sebagai matsal. Seperti:
a.
“
sekarang ini jelaslah kebenaran itu”(Yusuf:51)
b.
“Tidak
ada yang bisa menyatakan terjadinya hari itu selain dari Allah.”(An-Najm:58)
c.
“Bukankah
subuh itu telah dekat”(Hud:81)
d.
“Dan
rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya
sendiri”(Fathir:43)
Para ulama berbeda pendapat tentang ayat-ayat yang mereka
namakan amtsal mursalah ini, apa dan
bagaimana hukum mempergunakannya sebagai matsal?
Sebagian
ahli ilmu memandang bahwa hal seperti keluar dari adab Al-qur`an. Ar-Razi
mengatakan ketika menafsirkan ayat,
ö/ä3s9
ö/ä3ãYÏ uÍ<ur ÈûïÏ
6. Untukmu agamamu, dan untukkulah,
agamaku."
Sudah menjadi tradisi
orang menjadikan ayat ini sebagai matsal ketika mereka saling meninggalkan satu
sama lain (karena berselisih), padahal ini tidak di benarkan. Sebab Allah
menurunkan Al-qur`an bukan untuk dijadikan matsal, tetapi untuk direnungkan dan
kemudian diamalkan isi kandungannya.
2.3 Faedah-faedah
Amtsal
1. Menonjolkan sesuatu ma’qul dalam bentuk kongkrit
yang bisa dirasakan manusia sehingga akal bisa menerimanya dengan mudah.
Contohnya:
Allah SWT. memberikan contoh tentang
orang yang menafkahkan hartanya dengan jalan riya’ dimana orang tersebut tidak
akan mendapat pahala sedikitpun dari jalan tersebut.
“Maka perumpamaan itu seperti batu
licin yang diatasnya terdapat tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat lalu menjadilah ia bersih, mereka
tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan.” (al-Baqoroh: 264).
2. Menyingkapkan hakikat-hakikat dan mengemukakan sesuatu yang
tidak tampak seakan-akan sesuatu itu tampak.
Contohnya
“Mereka yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila.” (al-Baqoroh: 275)
“Mereka yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila.” (al-Baqoroh: 275)
3.
Mengumpulkan
makna yang menarik lagi indah dalam ungkapan yang padat, seperti amtsal kaminah dan amsal mursalah dalam
ayat-ayat diatas.
4.
Mendorong
orang yang diberi matsal
untuk berbuat sesuai dengan isi matsal, jika ia merupakan sesuatu yang disenangin jiwa.
Contohnya:
Allah SWT. membuat matsal tentang orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah.
Allah SWT. membuat matsal tentang orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah.
“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan
Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada
tiap-tiap butir seratus biji, Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang
Ia kehendaki. Dan Allah Maha Luas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui.”
(al-Baqoroh:261)
5.
Menjauhkan, jika isi matsal berupa sesuatu yang dibenci
jiwa. Contohnya:
“dan janganlah sebagian kamu, menggunjing sebagian yang
lain, sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah
mati? Maka tentu kamu merasa jijik kepadanya.” (al-Hujurat:12)
6.
Untuk
memuji orang yang diberi matsal. Seperti firman-Nya tentang para sahabat:
“demikianlah perumpamaan mereka dalam Taurat dan perumpamaan
mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas
itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi
besarlah ia dan tegak lurus di atas pokoknya. Tanaman itu menyenangkan hati
penanam-penanamnya, karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir
(dengan kekuatan orang-orang Mukmin).”
(al-Fath:29)
7.
Untuk
menggambarkan sesuatu yang mempunyai sifat yang dipandang buruk oleh orang banyak.
Contohnya:
“dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu
adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (al-Isra’: 32)
8.
Amtsal lebih berpengaruh pada jiwa,
lebih efektif dalam memberikan nasehat lebih kuat dalam memberikan peringatan
dan lebih dapat memuaskan hati. Allah banyak menyebut amtsal di dalam al-Quran untuk
peringatan dan pelajaran. Ia berfirman:
“dan
sungguh kami telah membuat bagi manusia di dalam al-Quran ini setiap macam
perumpamaan (matsal)
supaya mereka mendapat pelajaran.”(az-Zumar:27)
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
1.
Amtsal adalah penyerupaan
suatu keadaan dengan keadaan yag lain, demi tujuan yang sama, yaitu pengisah
menyerupakan sesuatu dengan aslinya.
2.
Amtsal di bagi menjadi tiga jenis, yaitu
a.
Amtsal musharrahah, maksudnya sesuatu yang dijelaskan dengan lafazh matsal
atau sesuatu yang menunjukkan tasbyih
(penyerupaan).
b.
Amtsal
kaminah, yaitu yang di dalamnya tidak disebutkan dengan jelas lafazh tamtsil,
tetapi ia menunjukkan makna-makna yang indah,menarik, dalam redaksinya singkat
padat, dan mempunyai pengaruh tersendiri bila dipindahkan kepada yang serupa
dengannya.
c.
Amtsal
mursalah, yaitu kalimat-kalimat bebas yang tidak
menggunakan lafazh tasybih secara jelas. Tetapi kalimat-kalimat itu berlaku
sebagai matsal.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qaththan, Syaikh
manna.2003.Pengantar studi Al-Qur`an.Jakarta
Timur:Pustaka Al-Kautsar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar